Belajar Untuk Mendengar

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini:
setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,
tetapi lambat untuk berkata-kata…
(Yakobus 1:19)

Jika kita mengamati ternyata hampir semua manusia lebih suka berbicara daripada mendengar. Kelemahan untuk mendengar ini bila tidak diantisipasi bisa berakibat buruk karena pengambilan kesimpulan yang diambil secara tergesa-gesa. Ingatlah bahwa Allah menciptakan manusia dengan 2 telinga untuk mendengar dan 1 mulut untuk berbicara. Dan hal ini menunjukkan bahwa Allah mau kita lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara.

Edwin Loise Cole pernah menceritakan tentang keberhasilan seorang ‘super salesman’ yang menerima gelarnya di San Jose dan membagikan rahasia keberhasilannya. Pria kumal yang tidak menarik tersebut memulai dengan perlahan: “Saudara tahu, saya tidak pandai berbicara banyak.” Namun ia dapat berhasil karena menerapkan rahasia yang ia peroleh dari temannya. Rahasianya adalah,”Orang mau melakukan segala sesuatu yang anda inginkan untuk dia lakukan, asalkan anda mau MENDENGARKAN orang itu berkata-kata. “Karena itu setiap kali saya menjumpai seseorang dan berbincang-bincang dengannya, saya mendengarkan saja ia berkata-kata. Setelah saya merasa sudah cukup lama mendengarkannya, maka saya dengan segenap kesederhanaan berkata, “Baiklah, mengapa saudara tidak menandatanganinya saja di sini?” Dan iapun melakukannya.

Betapa sederhananya kunci keberhasilan pria tersebut. Ia menggunakan kekuatan mendengar. Ia menggunakan kekuatan tersebut untuk menjawab kebutuhan yang sangat besar dari manusia pada umumnya, yaitu ‘didengarkan’. Maka akhirnya ia mendapat imbalan berupa penjualan ansuransi.

(THCC, Berubah, hal. 152)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*