Melayani Atau Dilayani?

yesus-membasuh-kaki-para-murid

Beberapa waktu yang lalu saya sengaja mengajukan pertanyaan di Sosial Media yang saya ikuti untuk dapat mengetahui apa sih sebenarnya yang dikehendaki oleh banyak pihak mengenai topik ‘Melayani atau Dilayani’?. Ada berbagai tanggapan mengenai hal ini, mulai dari mencantumkan ayat-ayat firman Allah, pengalaman pribadi, bahkan mengenai pentingnya pengetahuan Theologia yang harus dimiliki. Ada berbagai pandangan diberikan mengenai hal ini.

Sebenarnya jawaban pertanyaan ini sangatlah sederhana. Dari pertanyaannya ada kata ‘melayani’ yang menunjuk sebuah tindakan yang wajib dilakukan dan ada kata ‘dilayani’ yang berbicara mengenai seseorang yang menerima pelayanan. Jadi ini sebenarnya lebih banyak berbicara mengenai sebuah respon yang akan diberikannya akan sebuah tindakan. Di mana dia melayani dan dilayani. Nah pertanyaanya kapan kita melayani dan kapan kita untuk dilayani? Ternyata untuk menjawab ini maka kita akan bertemu dengan faktor usia dan pengetahuan/pengalaman seseorang akan sesuatu. Sebuah contoh seperti bayi yang mungil, tentulah ia belum bisa melayani, ia masih dalam posisi harus dilayani karena usia dan pengetahuannya belumlah cukup untuk itu. Lalu bagaimana dengan kakaknya? Tentu kakaknya sudah mulai bisa melayani adiknya yang kecil berdasarkan usinya yang lebih dewasa dan juga pengetahuannya yang sudah lebih berkembang. Lalu apakah ia bisa melayani sebagai orang dewasa? Tentulah tidak! Sebab secara usia dan pengetahuan ia belum mampu mencapainya. Namun apakah dapat bisa dipastikan seorang yang telah dewasa secara usia dapat melayani dengan baik? Tentu jawabnya adalah tidak. Untuk dapat melayani dengan baik perlu keduanya yaitu usia dan pengetahuan/pengalaman, tanpa keduanya tidak mungkin bisa melayani dengan baik. Seharusnya dengan berkembangnya usia seseorang maka secara otomatis pengetahuan/pengalamannya juga berkembang. Nah sungguh sebuah keanehan jika ada seorang yang dewasa namun ia masih mau diperlakukan sebagai bayi kecil yang dipangku dan diberi minum susu dari botol. Kalau hal ini sampai terjadi, pastilah ada yang salah dan ungkapan medis yang sering kita dengar adalah ‘kelainan’.

Jadi kapankah seseorang dapat menyadari saatnya dia melayani atau dilayani? Yang dapat melakukannya hanyalah orang tua atau yang lebih dewasa darinya. Saya ingat sekali bagaimana anak saya Miracle yang satu kali tiba-tiba pakai dasi dan jas saya yang kedodoran dan berkata bahwa ia sudah dewasa yang mau menjadi pembicara seperti saya. Tentu saja saya tersenyum dalam hati dan mencoba menjelaskan bahwa belum waktunya dia seperti itu. Banyak anak kecil merasa sudah dewasa dan bisa melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak dapat dilakukannya. Hanya orang dewasa yang tahu.

Dalam kehidupan kerohanian konsep melayani dan dilayani ini juga berlaku untuk setiap kita. Saat kita baru mengenal Allah sebagai bayi-bayi rohani, maka kita harus memberikan diri kita dilayani dan susulah (firman Allah yang lunak) yang kita minum. Namun dengan berkembangnya usia dan pengetahuan, maka kita harus mulai melayani sebatas apa yang dapat kita lakukan sesuai dengan batas kedewasaan rohani yang kita miliki dan juga pengetahuan/pengalaman yang telah kita terima. Makanannyapun sudah berubah, yang diterima sudah makanan keras.

Ada banyak masalah terjadi di gereja/pelayanan karena telah melibatkan orang yang salah, pada tempat salah dan pada waktu yang salah. Seorang yang belum boleh melayani telah dilibatkan melayani atau seorang yang belum berada dalam kapasitas pelayanan tersebut karena usia kedewasaan rohani dan pengalaman/pengetahuannya telah dilibatkan dalam pelayanan. Perlu sekali seorang yang dewasa rohani dalam hal ini untuk dapat menyampaikan kapan seseorang sudah dapat terlibat dalam pelayanan atau belum. Dan perlu sekali setiap jemaat untuk dibimbing oleh seorang dewasa rohani agar dia dapat melayani dengan baik. Jadi pelayanan bukanlah hanya karena kebisaan seseorang melakukan sesuatu dan bukanlah karena lamanya seseorang di dalam gereja, melainkan ada banyak hal lainnya yang harus dipertimbangkan di dalamnya.

Semoga uraian ini boleh membuat banyak pihak memahami kapan ia harus dilayani, dan kapan ia harus mulai melayani. Bagi konsep dunia mereka tentu selalu ingin dilayani karena dengan itu ia bisa berkuasa dan menikmati/mendapat segala sesuatu, namun bagi seorang percaya akhir dari semuanya adalah mengikuti teladan dari Yesus seperti dinyatakan dalam Matius 20: 28; Markus 10: 45 “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Di mana kata yang digunakan untuk melayani adalah “diakonein” yang berbicara mengenai pelayanan meja yang menunjukkan bagaimana Yesus melayani setiap orang tanpa pamrih. Saat seseorang melayani justru menunjukkan kemampuan dan kapasitasnya untuk memberi, bukan mengambil/mendapatkan sesuatu. Sungguh suatu hal yang sangat aneh jika ada yang berkata mau melayani namun ia punya motivasi untuk dilayani. Karena itu datanglah kepada pembina rohanimu atau seorang dewasa secara rohani dan bicarakanlah mengenai hal ini dengannya. Tuhan Yesus memberkati kita semua…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*