Kisah Hidup Erma Bombeck

Erma Bombeck lahir pada 21 Februari 1927 dan wafat pada 22 April 1996. Ia adalah seorang penulis yang mengkhususkan tulisannya di bidang humor sejak tahun 1960 hingga 1990-an di Amerika Serikat. Ia memulai karirnya dengan menjadi tukang foto kopi di koran Dayton Journal-Herarld saat masih remaja. Sesungguhnya ia sudah memulai ‘karirnya’ sejak di bangku sekolah dengan menulis kolom humor di majalah dinding The Owl. Tahun 1949 Erma lulus dari Universitas. Dayton dengan mengantongi gelar Sarjana Sastra Inggris. Segera setelah itu ia bekerja sebagai penulis berita wanita.

Di tahun 1964 Erma Bombeck berhasil meyakinkan editor dari surat kabar Kettering-Oakwood Times untuk memberinya kolom humor mingguan tersendiri. Meskipun hanya dibayar $3 per tulisan (lebih kurang Rp. 30.000,-) Erma Bombeck tidak patah semangat karena ia yakin kesuksesan akan mengikuti langkah pertamanya itu. Firasatnya benar, sampai tahun 1967, tulisannya diterbitkan lebih dari 900 surat kabar di Amerika dan Canada.
Selama lebih dari 30 tahun Erma menulis kolom humornya. Dan dalam periode itu ia menerbitkan 15 buku dan diakui sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di Amerika. Secara berkala ia muncul pada acara Good Morning America, dan menerima banyak penghargaan dari berbagai lembaga.

Kegigihan Erma Bombeck
Kesuksesan tidak datang dengan tiba-tiba. tanpa disadari ia meninggalkan jejak – jejak. Ada yang manis, ada yang pahit. Yang pahit bisa disebut dengan. ‘cobaan’, dan ada yang disebut dengan ‘kegagalan’. Demikian pula dengan Erma. Pada awal peluncuran bukunya, hanya ada 2 orang yang datang. Itu pun.. satu orang ternyata akan membeli meja yang didudukinya, sedang yang satu lagi bertanya,”Maaf, tahukah Anda toilet nya di mana?”

Erma Bombeck divonis tidak dapat mengandung oleh dokter. Saat akhirnya dapat mengandung ia harus menerima kenyataan bahwa dari 4 kali hamil, hanya 2 bayinya yang selamat. Erma Bombeck juga menderita kanker payudara dan harus diangkat dan ia. juga menderita gagal ginjal yang harus. dicuci setiap hari sampai akhir hidupnya.
“Secara pribadi dan karier, saya telah melalui jalan yang berliku. Saya mengubur bayi-bayi saya sendiri, kehilangan orang tua, menderita kanker, dan khawatir pada anak-anak saya kelak.”

Sikap pemenang membuat Erma Bombeck tidak menjadikannya sombong. Ia ingin dikenang sebagai ‘mantan ibu rumah tangga dan penulis’. Cita-cita sederhana itu juga yang membuatnya terus melangkah dan menulis, melalui kekecewaan yang dialaminya, rasa sakit, operasi, dan pencucian ginjal hariannya sampai ia wafat pada usia 69 tahun.

Berikut salah satu tulisan Erma Bombeck mengenang akan kehidupan yang telah dijalaninya:

If I had my life to live over, I would have talked less and listened more.
I would have invited friends over to dinner even if the carpet was stained and the sofa faded.
I would have eaten the popcorn in the ‘good’ living room and worried much less about the dirt when someone wanted to light a fire in the fireplace.
I would have taken the time to listen to my grandfather ramble about his youth.
I would never have insisted the car windows be rolled up on a summer day because my hair had just been teased and sprayed.
I would have burned the pink candle sculpted like a rose before it melted in storage.
I would have sat on the lawn with my children and not worried about grass stains.
I would have cried and laughed less while watching television – and more while watching life.
I would have shared more of the responsibility carried by my husband.
I would have gone to bed when I was sick instead of pretending the earth would go into a holding pattern if I weren’t there for the day.
I would never have bought anything. just because it was practical, wouldn’t show soil or was guaranteed to last a lifetime.
Instead of wishing away nine months of pregnancy, I’d have cherished every moment and realized that the wonderment growing inside me was the only chance in life to assist God in a miracle.
When my kids kissed me impetuously, I would never have said, “Later. Now go. get washed up for dinner.”
There would have been more “I love you’s”.. More “I’m sorrys” …
But mostly, given another shot at life, I would seize every minute… look at it and really see it … live it…and never give it back.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*