Ballpoinmu Akan Habis, Nie!!

Duduk di meja kerja saya siang ini, tiba-tiba saya teringat akan penyertaan Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya beberapa tahun silam, yang membuktikan pada saya bahwa tak ada hal yang terlalu kecil untuk DIA perhatikan.
Pagi hari ketika saya bangun dan mempersiapkan diri untuk bekerja, sambil berkemas, saya mendengar suara dalam hati saya, ”Bawa ballpoin, Nie!!”
Saya mendengar dengan jelas suara tersebut di hati saya, namun saya merasa suara tersebut meminta saya melakukan hal yang tidak beralasan.
“Ballpoin?? Ngapain aku harus bawa ballpoin?? Di meja kerjaku banyak ball poin, disaku celanakupun ada ballpoin. Buat apa aku harus bawa ballpoin??”
Ketika saya beranjak membuka pintu kamar tanpa membawa ballpoin, suara itu kembali saya rasakan.
Namun saya, dengan pemikiran dan pertimbangan saya yang “bijaksana”, memutuskan untuk berangkat tanpa menuruti suara itu.
Pagi hingga siang saya bekerja dengan baik – dan sibuk. Tak lagi ingat tentang kejadian tadi pagi di kamar mess saya.
Siang harinya saya mengikuti pimpinan saya bekerja dilapangan, jauh dari kantor saya. Sangat sibuk dan sangat berlari-lari, tidak kenal kamus slow dalam pekerjaan ini.
Tidak ada kendala yang terjadi.
Sampai disuatu momen….tiba2 ballpoin yang saya andalkan untuk bekerja mengeluarkan tinta yang semakin samar, makin samar, makin samar….dan habis!
Deg!!! Jantung saya serasa berhenti berdetak.
Saya sedang ada didepan pimpinan saya dan masih ada hal penting yang harus saya catat saat itu juga. Saya langsung berdiri dan minta ijin meminjam pena, namun pimpinan saya berbaik hati menyodorkan ballpoinnya yang bagus untuk saya pakai. Pekerjaan saya pun kembali lancar.
Ketika kembali ke ruang kerja saya, dalam sekian detik saya sempat beristirahat dan minum, saya teringat akan kejadian hari itu.
Tentang suara di hati saya tadi pagi yang saya abaikan.
Tentang ballpoin saya yang ternyata habis ketika bekerja siang ini.
Tak terasa, sambil minum air mata saya menetes.
Saya berjalan kembali ke ruangan pimpinan saya sambil menyeka airmata itu, dan bersyukur!
Saya belajar hal yang sangat penting hari itu.
Tentang bagaimana saya sangat berharga dimata Tuhan.
Tentang bagaimana DIA senantiasa menjaga saya dan tahu apa yang saya butuhkan.
Tentang DIA yang menyediakan segala yang saya perlukan itu.
Dan tentang Roh Kudus yang tak segan mengingatkan saya untuk sebuah hal kecil dalam hidup saya.
Namun terlebih saya belajar bahwa saya belum bisa taat pada perintah Roh Kudus. Saya adalah Annie yang masih mengandalkan pemikiran saya yang terbatas.
Air mata saya adalah airmata syukur, karena Tuhan memberi pelajaran berarti bagi saya.
Jika ballpoin saya yang akan habis siang itu saja Tuhan tahu, apa lagi masadepan saya dan anak saya Niel, DIA pasti lebih tahu!
Jika ballpoin saya yang akan habis siang itu saja Tuhan peduli, apa lagi pergumulan hidup saya dan anak saya Niel, DIA pasti lebih peduli!
Saya sudah lupa tanggal kejadian itu, namun saya tidak akan lupa suara Roh Kudus yang mengingatkan di hati saya, ”Ballpoinmu akan habis, Nie!!”

Annie Soeharto

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*